Memantau Rekahan Gunung Api

Alam tidak bisa ditebak ulahnya. Teknologi yang ada hanyalah mampu memberi tanda-tanda. Salah satunya teknologi pemantauan deformasi gunung api menggunakan global positioning system (GPS) yang bisa mengungkap aktivitas tubuh sebuah gunung api.

Gunung Merapi (2.968 m di atas permukaan laut) memang memiliki banyak kekhususan. Gunung muda ini termasuk gunung berapi yang sangat aktif. Sejak 1548, gunung ini sudah meletus 68 kali. Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2 – 3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10 – 15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan itu menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.400 orang. Pada November 1994 batuknya menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Aktivitas terakhirnya, Mei 2006 membuat penduduk sekitar terpaksa diungsikan.

Berhubung di lereng Merapi sampai 1.700-an m dpl merupakan permukiman penduduk, pemantauan Merapi menjadi penting demi meminimalkan bencana jika meletus. Ada beberapa metode yang dipakai untuk memantau gunung api seperti metode visual, seismik, deformasi, kimia gas, pengukuran temperatur, gaya berat, geomagnetik, dan penginderaan jauh. Semakin banyak metode yang digunakan, semakin akurat pengamatan yang dilakukan sehingga perkiraan terjadinya letusan bisa diketahui lebih cepat.
“Metode yang paling banyak dilakukan saat ini adalah metode seismik dan deformasi,” ujar Dr. Hasanuddin Z. Abidin, dari Teknik Geodesi ITB. Metode seismik dipakai untuk mengevaluasi aktivitas di dalam gunung api, sedangkan metode deformasi digunakan untuk mengetahui pola dan kecepatan deformasi permukaan gunung api secara horisontal maupun vertikal. “Dari data deformasi dapat terungkap karakteristik aktivitas magmatik, termasuk lokasi dan pusat tekanan, dan juga volume muntahan magmanya jika terjadi letusan,” imbuhnya.

Bisa mencapai puluhan meter
Deformasi tubuh sebuah gunung api diyakini sebagai salah satu tanda-tanda terpercaya dari kebangkitan aktivitasnya. Selama ini sudah banyak diketahui, letusan-letusan gunung api yang eksplosif sering diawali oleh deformasi berupa kenaikan permukaan tanah yang relatif cukup besar. Bahkan untuk gunung api yang telah sekian lama “tidur”, fenomena deformasi merupakan salah satu indikator yang bisa dipercaya dari kebangkitannya kembali.

Prinsipnya, deformasi berupa penaikan (inflasi) ataupun penurunan (deflasi) permukaan tanah. Inflasi umumnya terjadi karena proses gerakan magma ke permukaan yang menekan permukaan tanah di atasnya. “Deformasi maksimal biasanya teramati tidak lama sebelum letusan gunung api berlangsung,” kata Hasanuddin. Sedangkan deflasi terjadi selama atau sesudah masa letusan. Pada saat itu, tekanan magma dalam tubuh gunung api sudah melemah.

Gejala deformasi ini akan menyebabkan pergeseran posisi – baik vertikal maupun horisontal – suatu titik di tubuh gunung api. Nilai pergeseran itu bisa mencapai puluhan meter pada gunung api silisik yang membentuk kubah lava. Berbeda pada gunung api yang kantong magmanya masih jauh di bawah permukaan atau gerakan naiknya magma relatif lambat, deformasi yang teramati relatif kecil. “Kadang-kadang nilai strain-nya lebih kecil dari 0,1 ppm per tahun,” ujar Hasanuddin.

Pengamatan perubahan permukaan tanah ini dapat dilakukan dengan berbagai sistem, salah satunya memanfaatkan teknologi global positioning system (GPS). Kelebihannya tentu saja dalam hal ketelitiannya (bisa sampai milimeter). Pemantauan deformasi sendiri dilakukan secara episodik (dalam selang waktu tertentu) atau kontinyu (terus-menerus). Untuk gunung api yang aktif seperti Merapi, idealnya dilakukan secara kontinyu, sementara untuk gunung api yang tidak terlalu berbahaya bisa saja cukup dengan pemantauan berkala.
Sayangnya, belum setiap pos gunung api punya GPS, bahkan hampir tidak ada. Menurut Hasanuddin, hanya Gunung Merapi di Jawa Tengah yang memiliki GPS dan dipantau secara kontinyu. “Itu pun yang memasang Jerman dan Prancis,” tambahnya. Tak disangkal, harga mahal adalah kendala. Alat penerima GPS yang digunakan ini harganya ratusan juta rupiah. Sedangkan di lab Gedodesi ITB ada 14 receiver yang umumnya sumbangan atau hibah dari Jepang.

Di beberapa negara maju, pemantauan deformasi gunung api menggunakan GPS sudah dilakukan secara online, seperti metode seismik pada pos pengamatan gunung api di Indonesia. Sungguh bertolak belakang mengingat Indonesia yang dijuluki ring of fire justru hanya menempatkan metode GPS sebagai pendukung saja.

Punya signature
Untuk dapat memperoleh data deformasi gunung api menggunakan metode GPS, sejumlah receiver yang dipasang di punggung dan puncak gunung diaktifkan secara bersamaan. Komponen utama suatu receiver biasanya antena dengan penguat, bagian radio frequency (RF) dengan pengenal dan pemroses sinyal, pemroses mikro untuk pengontrolan receiver, contoh data dan pemroses data, osilator presisi, unit perintah dan tampilan, memori, serta perekam data.

Begitu receiver diaktifkan, maka akan diterima data digital dari sejumlah satelit yang mengudara di orbit. Setiap satelit secara kontinyu memancarkan sinyal gelombang pada dua frekuensi L-band, yang dinamakan L1 dan L2. Ada dua kode pseudo-random noise (PRN) yang dikirimkan satelit GPS untuk dipakai sebagai penginformasi jarak, yaitu kode P (Precise atau Private) dan kode-C/A (Coarse Acquisition atau Clear Access). L1 membawa kode P dan C/A beserta pesan navigasi, sedangkan L2 membawa kode P dan pesan navigasi.

Data pengamatan dasar GPS adalah waktu tempuh dari kode P dan C/A serta fase gelombang pembawa L1 dan L2. Konsep dasar penentuan posisi dengan GPS sebenarnya pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya sudah diketahui. Posisi yang diberikan GPS adalah posisi tiga dimensi (X, Y, Z).

Dalam GPS titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam ataupun bergerak. Posisi titik dapat ditentukan dengan satu receiver GPS terhadap pusat Bumi atau menggunakan metode absolut (point positioning) ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (monitor station) dengan metode diferensial (relative positioning) yang minimal menggunakan dua receiver GPS.

Penentuan posisi secara diferensial dipakai untuk memperoleh ketelitian posisi yang relatif tinggi. Setelah itu dilakukan pemrosesan data untuk menentukan koordinat dari titik-titik yang mencakup tiga tahap utama penghitungan, yaitu pengolahan data dari setiap baseline dalam jaringan, perataan jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat dari titik-titik dalam jaringan, kemudian transformasi koordinat titik-titik itu dari datum WGS84 ke datum yang diperlukan pengguna.

Data pengamatan sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup kemudian diproses untuk mendapatkan informasi mengenai posisi, kecepatan, dan waktu atau parameter turunannya. Perubahan data-data itu diamati secara terus-menerus selama terpasangnya receiver, yaitu antara 8 – 16 jam. Dari pengolahan data dapat diketahui vektor pergeseran horisontal maupun vertikal sebuah gunung api. Dengan pembandingan vektor tersebut serta metode pemantauan lainnya dapat diketahui perubahan bentuk gunung api dan dapat dianalisis perubahan yang terjadi.

Aplikasi GPS juga dapat digunakan untuk memahami karakteristik sebuah gunung api. Panjang pendeknya pergeseran koordinat titik pengamatan dapat menentukan apakah gunung api tersebut dalam keadaan bahaya. Penentuan keadaan bahaya itu amat tergantung pada pengetahuan mengenai gunung api itu sebelumnya. “Itu yang disebut signature gunung api, yang masing-masing gunung berbeda-beda,” ungkap Hasanuddin. (Sumber: Intisari Agustus 2006)

(lebih…)

September 14, 2007 at 7:56 am 4 komentar

Sabuk Keselamatan Rumah Antigempa

Bukan gempa yang menimbulkan banyak korban, tapi bangunan. Begitu ujaran orang bijak. Memang kebanyakan korban akibat gempa berasal dari mereka yang tertimbun reruntuhan bangunan. Maka jumlah korban harus ditekan serendah mungkin dengan mendirikan bangunan, terutama rumah tinggal, yang tahan guncangan. Ada konsep rumah simetris, rumah kayu, atau Smart Modula.

Gempa dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter beberapa waktu lalu mengguncang bumi Yogyakarta dan sekitarnya. Kita tentu prihatin mengingat peristiwa alam itu memakan ribuan korban jiwa. Belum lagi korban lain yang luka-luka. Mengapa bisa begitu banyak korban yang jatuh dalam bencana di pagi hari itu?

Kita menyaksikan, kebanyakan warga yang menjadi korban adalah mereka yang tertimpa reruntuhan bangunan rumah tinggal. Fakta lain, banyak rumah yang roboh, bahkan tak sedikit yang rata dengan tanah, itu memang tidak tahan terhadap guncangan besar akibat gempa.

Di kawasan Bambanglipuro, Bantul, yang termasuk daerah dengan kerusakan fisik terparah, misalnya, banyak bangunan rumah tinggal yang dibikin asal jadi. Sebagai contoh, beberapa bahan diganti dengan bahan lain yang lebih murah. Misalnya, semen PC sebagai perekat diganti dengan adukan campuran gamping (kapur) dan remukan bata merah. Tembok bangunan pun hanya ditumpangkan pada fondasi yang tidak diperkuat dengan cor beton.

Tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah menjadi salah satu penyebab diturunkannya spesifikasi minimal bagi bangunan tahan guncangan oleh warga. Membangun rumah tahan gempa memang butuh dana lebih besar ketimbang mendirikan bangunan rumah asal jadi.

Simetris lebih kukuh

Bukan asal jadi kalau penduduk pedalaman Papua, misalnya, membangun honai, rumah tradisional mereka yang terbukti tahan terhadap goyangan gempa. Di berbagai pelosok Nusantara masih banyak jenis rumah tradisional lain, buah dari kearifan lokal (local genius), yang juga antigempa.

Sebenarnya, menurut Pariatmono, asisten deputi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek, Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, prinsip dasar bangunan antigempa itu sederhana. Syaratnya, seluruh struktur bangunan saling berkait satu sama lain sehingga beban atau gaya yang diterima akan ditanggung dan disalurkan secara merata dan proporsional pada titik-titik konstruksi.

Pada bangunan modern, agar konstruksi bangunan kuat, ujung besi kolom, sloof, maupun beton rangka atap harus saling terkait (lihat gambar). Untuk itu memang perlu tambahan besi beberapa sentimeter. Kalau dihitung untuk seluruh bangunan, dananya memang bisa lumayan juga besarnya, tapi konstruksi yang dihasilkan jelas jadi kuat. Pada konstruksi kayu perlu dipasang balok penopang antara kolom dan balok atas. Sedangkan rangka atap harus diikat pada balok atau kolom.

Selain struktur saling mengait, kekuatan bangunan juga ditentukan oleh bentuk bangunan yang simetris (segi empat atau bujur sangkar). Bentuk beraturan lebih kuat daripada yang tidak, asal konstruksinya benar, terutama pada bagian-bagian di pojok atas. Jika terguncang gempa, pada konstruksi berbentuk kubus atau balok akan terjadi pergeseran, di mana bidang atas akan lebih lambat dibandingkan dengan bidang bawah. Karena itu, bidang bangunan (tampak depan atau belakang) akan berubah bentuk menjadi jajaran genjang. Bagian pojok yang tadinya bersudut 90o berubah menjadi tidak siku lagi.

Prinsip kedua bangunan antigempa yaitu menjaga kekukuhan bagian konstruksi yang rawan kerusakan. Selain pojokan, bagian lain yang rawan kerusakan yaitu daerah bukaan (pintu, jendela, lubang angin). Karena itu daerah bukaan ini perlu perhatian khusus. Tembok dengan bukaan ibarat aliran sungai yang di tengahnya berdiri pohon atau tiang jembatan. Maka, saat memasang konstruksi pintu atau jendela, jangan lupa memasang sengkangnya.

Kalau bangunan tidak simetris, misalnya berbentuk huruf “U” atau “L”, mau tidak mau konstruksinya harus dipisahkan menjadi bentuk-bentuk yang beraturan. Selain itu, pada bangunan segi empat, perbandingan sisi satu dengan sisi lainnya tidak boleh lebih dari sepertiganya. Syarat ini seperti yang dicantumkan dalam draf awal kriteria untuk merencanakan dan membuat rumah sederhana tahan gempa pascagempa Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Jadi, jika tampak depan 6 m, misalnya, maka panjang ke belakang tidak boleh lebih dari 18 m. Ini dimaksudkan untuk mengurangi gaya puntir yang terjadi pada saat gempa.

Diganjal karet

Di luar konsep rumah tahan gempa, “Perlu dilakukan mikrozonasi, yakni memetakan daerah rawan gempa,” kata Pariatmono. Mikrozonasi bisa menjawab pertanyaan, mengapa dalam suatu areal terdapat bangunan yang rusak parah, tapi ada yang “segar bugar”. Padahal jarak lokasi bangunan-bangunan itu saling berdekatan.

Hal semacam itu sering terjadi, misalnya di sebuah kompleks perumahan di Bengkulu, dan mungkin juga di Yogyakarta dan sekitarnya. “Yang namanya kompleks perumahan tentunya material yang digunakan dan waktu pembangunannya sama,” kata Pariatmono sembari menambahkan, untuk melakukan mikrozonasi memang dibutuhkan dana besar karena skalanya cukup detail, meliputi wilayah kelurahan, bahkan Rukun Warga, per unit zonasi.

Mikrozonasi itu antara lain juga untuk memetakan struktur tanah. Mendirikan bangunan di atas tanah liat berbeda dengan di atas tanah berpasir, misalnya. Perbedaan kedua jenis tanah ini tegas. Tanah berpasir termasuk jenis immediately settlement (cepat mantap). Artinya, sekali mendapat beban, langsung turun untuk selamanya karena sifat pasir yang tidak “memegang” air. Sedangkan tanah liat yang bersifat sebaliknya termasuk jenis long term settlement. “Pada tanah liat air butuh waktu untuk mengalir,” ujar Pariatmono.

Bukan berarti tanah berpasir serta merta pasti lebih baik sebagai pijakan dasar sebuah bangunan. Sebab, pada tanah berpasir ada gejala liquid faction yang mesti diwaspadai. Cobalah masukkan pasir basah ke dalam gelas. Ketika gelas digoyang-goyang, air akan naik ke atas, dan pasir kehilangan daya dukungnya. Kira-kira seperti itulah fenomenanya. Keadaan ini tentu sangat berbahaya apabila di atas tanah berpasir didirikan bangunan. Mudah ditebak, bangunan itu tentu akan luruh ke bawah. Meski masih belum jelas betul kebenarannya, fenomena macam ini terjadi pada bangunan sebuah hotel yang amblas sedalam satu lantai di NAD.

Alternatif lain yang ditawarkan Pariatmono yaitu konstruksi bangunan kayu. Katanya, rumah dari kayu punya ketahanan lebih baik terhadap goyangan gempa. Dasarnya yaitu hukum Newton, yang merumuskan bahwa gaya sebuah benda merupakan perkalian antara massa (bobot) dengan percepatan yang diperoleh benda itu (F = m x a). Dari situ terlihat mengapa rumah kayu yang bobotnya lebih ringan relatif lebih tahan gempa dibandingkan dengan rumah tembok yang bobotnya lebih berat. Dengan percepatan yang sama, gaya yang menimpa rumah kayu lebih kecil daripada rumah tembok.

Meski begitu, rumah kayu bukannya tidak punya kelemahan. Selain harga belinya semakin mahal, perawatannya juga lebih njelimet dan privasinya kalah ketimbang rumah tembok. Dari rumus Newton itu, bobot bangunan jelas tidak bisa diotak-atik. Yang bisa dilakukan tinggal bagaimana mengurangi besaran percepatannya.

Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, percepatan itu dikurangi dengan memisahkan bagian atas dan bagian bawah bangunan menggunakan peredam karet. Seperti halnya mobil, yang harganya mahal tentu lebih kecil guncangannya ketimbang mobil murah ketika melewati jalanan rusak. Karet berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 15 cm dan tinggi 20 cm itu dipasang di antara lantai satu dan lantai dua atau tembok dengan atap kalau bangunan itu berlantai satu. Teknik ini sudah diterapkan di salah satu bangunan di daerah Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Di atas umpak

Memang, jer basuki mawa bea, untuk mendapatkan nilai lebih dibutuhkan biaya yang lebih juga. Namun, jika sejumlah alternatif tadi masih dirasa belum terjangkau, Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) di Surakarta menawarkan konsep terbaru rumah antigempa lain yang diberi nama “Smart Modula”. Konstruksi rumah ini sangat lentur, mudah dibangun dengan sistem bongkar- pasang, dan cukup kokoh.

Awalnya, ide ini bukan sebagai rumah tahan gempa, tapi sebagai pengganti tenda-tenda darurat pascabencana. Konsep awal yang menyerupai kontainer tidak bisa berkembang karena beratnya. Ide itu kembali digali saat terjadi gempa di NAD dan Pulau Nias. Meski konsepnya rumah sederhana, menurut penciptanya yang juga Direktur ATMI, B.B. Triatmoko, SJ, standar kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

Struktur kerangka utama “Smart Modula” menggunakan besi kanal C. Semula digunakan besi pipa yang dinilai kuat dan kokoh, tapi Triatmoko lalu memilih besi kanal C karena lebih ringan dan cukup dirakit hanya oleh tiga orang. Juga tidak diperlukan derek lagi seperti saat menggunakan kerangak besi pipa.

Ada dua jenis besi kanal C yang digunakan, yakni hot deep galvanis dan zinc alumunium (54% Zn, 46% Al). Jenis pertama mampu bertahan sekitar 10 – 15 tahun tanpa dilapisi pelindung atau cat. Sementara zinc alumunium yang dilapisi pelindung antikarat mampu bertahan hingga 20 tahun.

Struktur itu sanggup menahan getaran gempa karena dihubungkan dengan baut. Agar bisa bergerak fleksibel saat terkena guncangan hebat, lubang baut sengaja dibuat berbentuk oval. Ada semacam ruang yang memungkinkan baut bergerak ke kiri dan ke kanan maupun ke atas dan ke bawah. Struktur utama “Smart Modula” ditopang oleh umpak batu di setiap sudut rumah. Ini mengingatkan kita pada model rumah tradisional adat Jawa yang kini sudah banyak ditinggalkan.

Bobot konstruksi akan jauh berkurang jika besi kanal C diganti dengan bahan serat (fiber) komposit. Lagi-lagi ini akan mengurangi jumlah tenaga kerja dan mempercepat pengerjaan. Untuk bisa mengangkat serat komposit sepanjang ruas utama kerangka rumah hanya diperlukan tenaga satu orang. Sementara untuk mengangkat besi kanal C dibutuhkan minimal dua orang.

Teknologi serat komposit yang sudah dikembangkan di Cina ini sudah dikuasai oleh pihak ATMI. Selain tahan karat dan api, kekuatannya sebanding dengan besi kanal C. Hanya saja jika dikaitkan dengan konsep sederhana, menjadi agak kedodoran sebab harga serat komposit jauh lebih mahal.

Mau pilih konsep rumah tahan gempa yang mana? Jawabannya tentu tergantung pada anggaran yang ada. Yang pasti, dengan rumah antigempa korban jiwa bisa dikurangi ketika kulit Bumi sedang genit “bergoyang pinggul”. Datangnya gempa memang bisa diprakirakan adanya, tapi kapan persisnya akan terjadi, tidak ada yang tahu pasti.
Mengingat wilayah kita termasuk kawasan yang dikepung oleh potensi ancaman gempa bumi, maka segeralah kenakan “sabuk keselamatan” di rumah Anda!

(Sumber: Intisari Agustus 2006)

September 1, 2006 at 3:28 am Tinggalkan komentar

Mereka Selamat dari Gempa

Sabtu 27 Mei 2006, saat terang tanah, wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah dilanda gempa berkekuatan besar. Banyak korban berjatuhan, tapi lebih banyak lagi yang selamat. Sebagian dari mereka luput dari maut dan cedera dengan cara unik.

Bagi mereka yang berusia 30-an tahun seperti Sugeng, gempa di desanya pada Sabtu 27 Mei 2006 itu merupakan gempa terbesar yang pernah dialaminya. Kawasan Pleret, tempat Sugeng tinggal, itu termasuk daerah yang kerusakannya paling parah.
Dalam catatan sejarah, gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter itu bukan termasuk gempa terbesar pertama. Tercatat pada 1867 wilayah Yogyakarta sudah digoyang lindu dengan akibat 372 rumah roboh dan lima orang meninggal.

Hampir seabad kemudian, tepatnya 1943, gempa kembali melanda Yogyakarta dengan hasil yang lebih dahsyat: 2.800 rumah hancur, 213 orang meninggal, dan 2.096 orang luka-luka. Sugeng sebenarnya pernah merasakan gempa cukup besar tapi tidak ada kerusakan berarti di daerahnya. Gempa yang terjadi tahun 1981 itu tercatat membuat dinding Hotel Ambarukmo di Yogyakarta retak-retak.

Kini, seiring bertambahnya penduduk, gempa menelan banyak korban. Dari situs sonorajogjamediacenter.org tercatat 6.234 orang meninggal, lebih dari 50.000 luka-luka, serta lebih dari 70.000 bangunan rusak atau ambruk. Berbagai simpati mengalir bagi para korban. Di balik peristiwa itu tersimpan kecemasan dan keberuntungan.

Keluar lebih awal

Kecemasan dirasakan oleh mereka yang memiliki ikatan batin dengan wilayah yang terkena gempa. Apalagi beberapa saat setelah gempa, komunikasi bisa dikatakan putus sama sekali. Hal ini dialami Eni yang orangtuanya tinggal di Dusun Tilaman yang masuk wilayah Kecamatan Imogiri. Berhubung tidak dapat memperoleh kepastian informasi tentang keadaan orangtuanya, maka ia memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta pada Sabtu siang itu.

Butuh perjuangan berat, sebab sesampai di Yogyakarta pada Minggu dini hari, transportasi menuju kampungnya lumpuh. Padahal jarak Yogyakarta – Imogiri lumayan juga, sekitar 17 km. Rasa cemas mengalahkan segalanya sehingga Eni, yang kebetulan pulang bersama saudaranya yang orangtuanya tinggal tidak jauh dari kampung orangtua Eni, memutuskan untuk berjalan kaki. Beruntung, baru separuh perjalanan, ada kendaraan menuju ke Imogiri yang bersedia ditumpanginya.

Eni baru merasa lega setelah tahu orangtuanya selamat, meski sebagian rumahnya hancur dan dindingnya retak-retak. Kondisi itu masih lebih bagus dibandingkan dengan bangunan milik para tetangga kir-kanannya yang rata dengan tanah. Bahkan, Kabupaten Puroloyo, salah satu situs milik Keraton Yogyakarta pun sami mawon, rata dengan tanah. Tembok kukuhnya memang cuma batu bata yang ditata tanpa menggunakan perekat semen.

Di kampungnya korban meninggal tercatat tiga orang, kebanyakan tertimpa reruntuhan tembok rumah. Namun, ada juga yang selamat tanpa lecet sedikit pun meski rumahnya ambruk seambruknya. Bu Suyitno (70), misalnya. Menurut Joko, anaknya yang bekerja di Jakarta dan buru-buru pulang ke Yogyakarta, begitu kabar gempa tersebar, di rumah yang tiga perempatnya rubuh itu ibunya tinggal bersama salah seorang anak perempuannya, Nani.

Seperti malam-malam sebelumnya, Bu Suyitno yang menderita stroke tidur di ruang tengah. Ketika gempa mengguncang, secara reflek Nani lari keluar rumah tanpa sempat menyelamatkan ibunya. Ketika gempa selesai, Nani yang ingin mengetahui kondisi ibunya teralang pintu rumah yang miring sehingga susah dibuka. Bersama saudaranya akhirnya Nani bisa masuk ke rumah, dan untunglah ibunya tidak mengalami cedera. Padahal kondisi di dalam rumah sudah berantakan. Lemari-lemari roboh menghamburkan seluruh isinya ke mana-mana. Bisa jadi ibunya selamat karena terjatuh ke lantai dan tempat tidurnya menjadi tempat perlindungan yang kukuh.

Keberuntungan serupa dialami Ny. Pawiro Dasi (85). Seperti pagi-pagi sebelumnya, pemilik toko terlengkap di Ganjuran, Bantul, ini duduk di samping tokonya. Namun, pagi itu ia keluar lebih awal dari biasanya. Begitu gempa terjadi, perempuan yang berkursi roda karena patah tulang punggungnya ini langsung tertimpa jendela yang jebol dan diikuti material-material lain. Suryadi, anak lelakinya yang menderita sulit bicara, begitu tahu ibunya tertimbun reruntuhan rumah, lantas berteriak-teriak memanggil ibunya sambil menangis. Karena sambil membopong anak balitanya, tentu dia tidak bisa sendirian menyelamatkan ibunya.

Suharwanto, anak bungsunya yang tinggal tak jauh dari situ, sedang membantu tetangga sebelahnya yang juga tetimpa keruntuhan rumah. Akan tetapi begitu ingat akan nasib ibunya, anggota DPRD Bantul ini langsung bergegas pergi ke rumah ibunya. Bersama-sama kakak beradik ini membongkar reruntuhan rumah yang menimpa ibu mereka. Syukurlah, sang ibu tidak mengalami luka serius, hanya pelipisnya terkena pecahan kaca, meski sempat dibawa ke RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Untungnya lagi, Bu Pawiro keluar dari kamar tidur lebih awal. Dinding kamar tidurnya roboh persis menimpa tempat tidurnya.

Lain lagi dengan kisah Dawami (35), warga Ngringinan, Palbapang, Bantul. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat barang kerajinan ini sedang tiduran di kamar tengah bersama anak laki-lakinya. Dawami, yang belum sembuh benar dari penyakit usus buntu terkejut sekali ketika gempa terjadi. Tiba-tiba saja ruang belakang sudah mulai roboh, bersama anaknya dia bangkit dan hendak keluar ke arah depan. Begitu sampai di pintu, ruang depan pelan-pelan juga roboh. Maka, bersama anak laki-lakinya dia bertahan di ruang tengah. Kedua tangannya ke atas seakan-akan ingin melindungi diri. Ia hanya bisa pasrah. Ajaib, kamar tengah yang dia tempati justru tidak runtuh.

Sembunyi di almari

Keberuntungan juga menghampiri Ny. Zubaisah (83), warga Gedogan, Sumbermulya, Bambanglipuro. Saat itu dia sedang duduk di gandok yang juga dijadikan warung kecil-kecilan. Anaknya, Sunarti (38), baru saja mengeluarkan sepeda motor bebeknya di halaman. Dia hendak mandi, lalu mengambik handuk. Meski sudah siap dengan handuk, dia mengurungkan niatnya untuk mandi lantaran matanya melihat halamannya tampak kotor pagi itu. Sunarti pun keluar, lalu menyapu halaman itu.

Baru beberapa menit menyapu, tiba-tiba tanah tempatnya berpijak bergoyang. Sunarti segera berlari ke gandok menghampiri emak-nya dan menyeretnya keluar sebelum rumah mereka roboh. Coba kalau Sunarti langsung mandi di belakang, entah apa yang terjadi dengan ibunya yang sudah sulit berjalan karena sepuh itu.

Hal yang sama dialami Ignatius Warsidi (78) yang tinggal di Tegalkrapyak, Kecamatan Dongkelan, Bantul. Gara-gara tikus ia selamat dari goyangan lindu. Malam sebelumnya, ia memasang perangkap tikus. Pagi hari ketika sedang memasak air, istrinya melihat ada tikus terjebak di perangkap yang dipasang Warsidi. Berhubung takut memegang tikus, istrinya berniat membangunkannya untuk disuruh membuang. Baru saja Warsidi bangun, tiba-tiba tanah bergoyang. Dengan sigap suami-istri itu langsung menghambur keluar. Mereka menyaksikan rumah yang ditinggalinya luruh mencium tanah.

Anehnya, gempa sebesar itu tidak dirasakan oleh Wignyo (60-an) – warga Pundung Kecamatan Imogiri – yang pagi itu sedang menyapu halaman. Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara gemuruh robohnya rumah. Alhasil ia tidak bisa menyelamatkan istrinya yang tertimpa tembok sehingga harus dirawat di rumah sakit karena kakinya cedera.

Gempa yang berlangsung pagi itu memang tak sampai semenit lamanya. Beruntung bagi Dedy (38), warga Dodotan, Sumbermulya, Bambanglipuro, Bantul. Reflek berpikir sopir Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini masih baik sehingga ia bisa selamat dari gempa. Waktu itu bersama anak perempuannya ia masih berada di dalam rumah. Begitu melihat rumah mulai roboh, Dedy segera berlari ke arah lemari sambil menggandeng anaknya. Berdua mereka masuk ke dalam lemari pakaian. Meski rumah Dedy hancur mencium tanah, ia dan anak perempuannya terlindung di dalam lemari.

Cerita korban yang selamat dari gempa tentu masih banyak lagi. Agar peristiwa yang memakan korban jiwa dan luka-luka itu tak terulang lagi, maka Sugeng dan korban lain yang selamat perlu mengisahkan peristiwa itu dan mengingatkan kepada anak keturunannya agar membangun rumah yang tahan gempa. Soalnya, dari reruntuhan bangunan itulah korban berjatuhan. Gempa-gempa besar di lokasi yang sama bisa jadi bakal berulang, meski dalam rentang waktu yang lama, bisa di atas 50 tahunan. Bahkan bisa 100 – 300 tahunan.

(Sumber: Intisari Agustus 2006)

September 1, 2006 at 3:13 am Tinggalkan komentar

Jantung Bocor Tak Harus Biru

Jika berat badan balita Anda susah naik, berhati-hatilah. Siapa tahu ia menderita kelainan jantung bawaan. Pemeriksaan dini dan tindakan tepat dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kita tahu, jantung merupakan pompa berotot yang berfungsi mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Dulu Aristoteles mengira, jantung memiliki tiga ruangan karena ia memeriksa jantung katak dan kadal. Namun, seperti yang sudah pernah kita pelajari di bangku sekolah, di dalam jantung ada empat ruang. Di sebelah atas ada serambi kanan dan kiri, di bagian bawah ada bilik kanan dan kiri juga. Serambi berdinding tipis dan sempit, sedangkan bilik sebaliknya. Antara serambi dan bilik ada katup searah yang menjaga agar darah yang sudah berpindah tidak berbalik arah.

Sebagai pompa, jantung bekerja tanpa lelah. Melalui bilik kiri ia memompakan darah dari paru-paru yang kaya oksigen ke seluruh tubuh. Setelah darah mengirimkan oksigen yang diperlukan tubuh, ia berkumpul di serambi kanan untuk seterusnya masuk bilik kanan. Dari sini darah kotor tadi dipompa ke paru-paru untuk dibersihkan.

Begitulah siklus normal jantung yang terlihat monoton tapi sebentar berhenti saja bikin kita kelimpungan. Meski darah yang keluar dari bilik sedikit, sekitar 70 ml, tapi karena bekerja seharian, maka total darah yang dipompa dari bilik-bilik itu bisa mencapai 10.000 – 15.000 l darah.

Masalahnya, pada beberapa orang siklus tadi terganggu akibat adanya kebocoran. Bocornya bisa terjadi antarbilik atau antarserambi, bisa pula sebelum masuk ke jantung sudah terjadi kebocoran. Beberapa orang yang mengalami kebocoran jantung itu ada yang mampu bertahan ada yang menyerah.

 

Tidak efisien

Jantung bocor ini kebanyakan menimpa anak-anak. Dari data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dari 1.000 kelahiran di berbagai daerah, 6 – 7 di antaranya mengidap kelainan jantung bawaan (kompas.com). Kebanyakan bayi yang lahir dengan kelainan jantung itu meninggal sebelum berusia satu tahun. Sedangkan bayi yang bisa diselamatkan melalui pembedahan hanya 800 – 900 kasus per tahun, yang sebagian besar dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Banyak penyebab mengapa bayi-bayi itu lahir dengan kelainan jantung bawaan, terutama pada trimester pertama yang merupakan masa krusial bagi pembentukan jantung. Jika ibu si janin berusia di atas 40 tahun menderita penyakit kencing manis, campak, darah tinggi, serta merokok saat janin berusia tiga bulan, maka ada kemungkinan jantung janin mengalami kelainan. Faktor lain yang dapat mengganggu pembentukan jantung pada trimester pertama antara lain paparan sinar rontgen, trauma fisik dan jiwa, minum jamu atau pil kontrasepsi, serta faktor keturunan.

Menurut dr. Linda Lison, Sp.JP, FACC, FESC, ada beberapa macam kebocoran jantung dilihat lokasinya. Misalnya, ventrikel septal defect (VSD, kebocoran di bilik), atrial septal defect (ASD, kebocoran terjadi di serambi), dan paten ductus arterious (PDA, kebocoran di aorta yang menyambung ke pulmonal). Kelainan lain adalah transposition great artery (TGA), tetralogi fallot, pulmonalis stenosis/atresia, ebstein anomali, serta kebocoran pada katup-katup jantung.

Pada ASD kebocoran yang terjadi menyebabkan sejumlah darah kaya oksigen mengalir dari serambi kiri ke kanan. Darah ini kemudian dipompa ke paru-paru meski sudah dibersihkan sebelumnya. Dengan begitu kerja jantung menjadi tidak efisien. Pada kebanyakan penderita tidak timbul gejala berarti. Kalaupun ada gejala, wujudnya antara lain cepat capek maupun gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

VSD mirip dengan ASD, cuma lokasinya yang berbeda, yakni di bilik. Masalahnya bagian ini merupakan ruang pemompaan, sehingga tambahan darah membuat kerja pompa juga bertambah. Tekanan darah bisa meninggi pada saluran menuju paru-paru. Jika terus-menerus terjadi, akan menimbulkan kerusakan pada dinding pembuluh darah.

Yang patut diwaspadai adalah TGA. Pada kasus ini, aorta dan pulmonal terbalik. Aorta menerima darah kotor dari bilik kanan, tapi bukannya dibersihkan di paru-paru, darah ini malah diedarkan kembali ke seluruh tubuh. Begitu juga dengan pembuluh pulmonari yang menerima darah bersih tapi dikembalikan ke paru-paru.

Gejala yang timbul pada jenis kebocoran tadi sangat tergantung besar-kecilnya lubang kebocoran. Jika cukup besar, bisa menimbulkan gangguan pertumbuhan. Bicara soal gejala, perlu diingat bahwa tidak semua kelainan jantung bawaan ini memunculkan gejala warna biru. Soalnya, kelainan ini dibagi dua golongan: nonsianotik yang tidak menimbulkan gejala biru (contohnya ASD dan VSD) dan sianotik yang menimbulkan gejala biru (misalnya tetraologi fallot dam astresia tricuspid).

Ketidakmunculan tanda-tanda biru terjadi lantaran darah kotor dari bilik kanan tidak beredar ke seluruh tubuh. Sebaliknya, darah bersih dari jantung kiri menyeberang ke kanan dan menuju paru-paru. Bila lubang masih sempit, umumnya bayi tidak memperlihatkan keluhan.

Sebaliknya, badan (bibir, lidah, kuku) menjadi biru – terutama bila menangis – terjadi jika darah kotor (kurang oksigen) mengalir ke sirkulasi darah bersih. Bila darah kotor itu sampai memasuki organ-organ penting seperti otak, penderita akan mengalami sesak napas disertai kejang, bahkan dapat berakhir menghadap Sang Khalik. Namun, kebiruan itu umumnya baru tampak setelah bayi berumur beberapa minggu atau bulan.

Hati-hati infeksi

Sebenarnya, kelainan jantung bocor bisa dideteksi sejak awal. “Saat ini sudah ada tes fetal echokardiografi selama hamil,” tutur staf kardiologi di RS PIK dan Pluit Jakarta ini. Para ibu hamil diharapkan pula untuk menjaga kondisi kesehatannya, tidak mengonsumsi obat serampangan, serta tidak merokok.

Soalnya, kalau jantung sampai bocor, mau tidak mau tindakan yang dilakukan adalah operasi. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, operasi sudah bisa dilakukan tanpa pembedahan. Menurut Linda, umumnya operasi dilakukan saat usia bayi sekitar tiga bulan. Namun, jika keadaan mendesak, operasi bisa dilakukan segera, berapa pun umur si bayi.
Tindakan yang dilakukan bisa sekadar mengikat arteri pada kasus PDA, atau penutupan lubang tanpa operasi pada ASD atau VSD. Metode ini dilakukan dengan penutupan permanen seumur hidup seperti pemasangan payung untuk menutup lubang yang bocor. Hanya saja tindakan harus dilakukan ketika penderita sudah besar. Penanganan sejak usia dini akan mencegah persoalan serius di kemudian hari.

Pada VSD terkadang lubang akan menutup sendiri seiring bertambahnya usia. Namun, jika lubangnya besar, dianjurkan untuk ditutup sebelum usia prasekolah. Tujuannya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Biasanya, lubang ditutup dengan tambalan khusus atau terkadang dijahit. Jika lubang sudah tertutup, maka sirkulasi darah menjadi normal.

Setelah operasi dilakukan, masih diperlukan beberapa pengecekan agar tindakan berjalan sebagaimana mestinya. Jika diperlukan, dokter jantung akan memantau dengan serangkaian tes seperti elektrokardiogram atau echokardiogram. “Tidak ada pantangan berarti, kecuali pada hipertensi paru-paru di mana pasien tidak boleh terlalu capek,” kata Linda.

Terkadang jantung bocor ini terbawa sampai dewasa, tanpa dilakukan penanganan untuk menambalnya. Soal berbahaya atau tidak, Linda hanya mengatakan, “Yang kita takutkan kalau sampai terjadi infeksi jantung. Kalau ada tindakan, seperti cabut gigi atau operasi bedah perlu digunakan antibiotika.” Atau bisa juga yang tadinya masuk jenis penyakit jantung yang tidak biru berubah menjadi biru.

Repot memang. Sebab, yang bermasalah itu organ yang sangat vital sih!

boks

MEMPERBAIKI SALAH LETAK

Pada pasien dengan TGA, mau tidak mau harus ada koreksi seawal mungkin. Banyak bayi menjalani operasi kateterisasi untuk menyingkat waktu dan menunda pembedahan sampai mereka bisa mengurus dengan lebih baik. Prosedur ini dilakukan dengan memperbesar sambungan antara serambi kiri dan kanan. Tujuannya, membuat darah bercampur sehingga darah kotor dan bersih bisa dipompa ke arah yang benar.

Ada dua jenis operasi yang bisa memperbaiki TGA. Pertama membuat saluran di antara serambi. Ini akan mengalihkan darah kaya oksigen ke bilik kanan dan aorta, sedangkan darah kotor atau miskin oksigen menuju bilik kiri dan arteri pulmonari. Tindakan ini dikenal dengan istilah prosedur Mustard atau Senning. Jenis kedua dikenal dengan operasi arterial switch. Aorta dan arteri pulmonari dikembalikan ke posisi normal mereka. Aorta disambungkan ke bilik kiri, dan arteri pulmonari ke bilik kanan.

Sehabis operasi masih diperlukan pemantauan. Mereka pun tidak dianjurkan untuk olahraga kompetisi. Problem yang timbul mungkin penurunan denyut atau fungsi katup pada operasi Mustard atau Senning. Soalnya, bilik kanan memompa darah ke seluruh tubuh selain ke paru-paru. Tidak ada halangan bagi wanita dengan TGA yang dioperasi untuk hamil. Hanya berhati-hati jika muncul aritmia.

(Sumber: Intisari September 2006)

September 1, 2006 at 2:15 am 116 komentar

Willy, Hati-hati Hepatitis C!

Gaya hidup boleh wah. Perilaku boleh hebat. Tapi kalau di dalamnya terkandung risiko tertular hepatitis C, apa masih bisa dibilang wah dan hebat? Ingat, penyakit ini bisa berujung pada kanker hati.

Malam itu, Willy baru selesai ngobrol bersama temannya di kawasan Kuningan (Jakarta) dan langsung bubar. Waktu sudah beranjak pukul 21.00. Namun, yang agak mengagetkan, konsultan teknologi informasi ini justru bilang mau pulang agak sorean. Baginya malam sama dengan sore. Maklum ia memang suka ngelayap hingga dini hari.Pernyataan hendak pulang lebih “sore” rupanya bukan tanpa alasan. Belakangan Willy agak gerah membaca iklan di sebuah harian. Iklan itu kira-kira menceritakan antrean calon pengantin yang mau periksa kesehatan. “Lo, apa hubungannya mau menikah dengan periksa kesehatan?” Begitu batin Willy. Ia makin tak mengerti ketika salah satu kebiasaannya ikut disebut sebagai perilaku yang patut diwaspadai. Ia lebih bingung lagi ketika membaca hepatitis C. Wah, apa pula ini?

Keping-keping informasi itu menjadi kegelisahan Willy justru ketika ia hendak bersiap-siap menyunting gadis pilihannya.

Tingkat keberhasilan naik
Belakangan PT Roche Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia memang sedang gencar mengampanyekan pendidikan bagi masyarakat luas dengan tema “Hepatitis C: Ayo Periksa, Sembuhkan Segera!” Setidaknya, ada dua alasan yang mendasari kampanye itu. Hepatitis C merupakan penyakit infeksi kronis yang menyerang hati dan ditularkan melalui darah, serta semua orang berisiko tertular virus ini.

Dari data Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) tahun 2000 terkuak, angka kejadian infeksi virus hepatitis C (VHC) di Indonesia hampir 2,4% dari total populasi. Ini berkisar pada angka 6 – 7 juta. Pada tingkat dunia ditemukan angka 170 juta. Yang menjadi keprihatinan, 60 – 65% VHC yang menyerang Indonesia kebanyakan genotipe tipe 1 yang sulit diobati atau disembuhkan.
Di samping itu, ada catatan khusus dari hasil penelitian Prof. Dr. Suwandhi Widjaja, Sp.PD, Ph.D. “Penderita hepatitis C yang terbanyak sekarang ini cenderung menurun kelompok umurnya,” katanya. Jika dulu kelompok umur 40 – 60 tahun merupakan yang tersering, sekarang turun ke kelompok umur 20 – 30 tahun.

Memang perkembangan teknologi juga memicu keberhasilan pengobatan. Jika dulu hanya 15 – 20%, kini keberhasilan pengobatan hepatitis C melonjak pada kisaran 89 – 90% untuk genotipe 2 atau 3 dan untuk genotipe 1 b berkisar 50 – 60%.

Hasil itu terlihat menggembirakan, tapi sejumlah kendala masih menghadang. Kendala pertama, banyak pasien yang sudah dalam taraf berat. “Sudah sampai tahap sirosis,” bilang guru besar ilmu penyakit dalam pada Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta ini. Bukan menakut-nakuti, namun sirosis termasuk penyakit hati yang serius sebagai akibat dari peradangan kronis hati dan digantikan oleh jaringan parut. Di Indonesia, 1 – 5% penderita sirosis berkembang menjadi kanker hati (karsinoma sel hati).

Kendala kedua, soal biaya. “Sangat mahal!” Bagi kalangan tertentu biaya mahal menjadi problem untuk menjalani pengobatan. Lalu kendala terakhir menyangkut efek sampingan yang tidak bisa disepelekan. Mulai dari rambut rontok, demam, pegal-pegal, letih, nafsu makan menurun, sampai suasana hati yang sedih. Juga kekurangan darah (anemia) dan penurunan sel trombosit. Beruntung, untuk meringankan efek sampingan terakhir ini sudah ada obatnya. Pengobatan hepatitis C sendiri memerlukan waktu relatif lama, 6 – 12 bulan.

Gejala hepatitis C kronis biasanya ringan atau bahkan tidak ada gejalanya sehingga banyak penderita selama bertahun-tahun tidak menyadari kalau dirinya mengidap hepatitis C. Berbagai gejala dan keluhan baru muncul justru ketika sudah masuk ke tahap sirosis atau kanker hati. Gejala yang acap terjadi di antaranya lemah, perasaan kurang enak pada ulu hati, kadang bengkak pada perut atau tungkai, dan berat badan menurun cepat. Tidak jarang pula penderita muntah darah setelah mengonsumsi obat penghilang nyeri atau demam, setelah makan makanan yang merangsang, atau mengonsumsi minuman beralkohol.
Jadi, ada tidaknya gejala bukan halangan bagi virus untuk menggerogoti hati. Pelan tapi pasti hati diserang dan mengerut hingga akhirnya dapat berkembang menjadi kanker hati.

Bertahan dalam darah
VHC merupakan virus yang berkembang biak di sel hati dan dikeluarkan ke dalam darah. Jadi, virus ini menyebar dan menular melalui kontak darah dan produk-produk darah. Hal inilah yang menjadi kegelisahan Willy. Seks bebas yang menjadi bagian dari gaya hidupnya itu ternyata rawan terhadap penularan VHC.

Dulu, sebelum tahun 1990-an, transfusi darah menjadi gerbang utama penyebaran VHC. Semenjak dilakukannya penapisan yang ketat mulai tahun 1992, kisah penularan hepatitis C lewat transfusi darah tutup buku. Sebagai ganti adalah luka tusuk jarum suntik. Bisa terjadi di kalangan tenaga kesehatan maupun pengguna narkoba intravena. Hal terakhir inilah, menurut Suwandhi, penyebab penderita hepatitis C bergeser ke kelompok anak muda.

Gaya hidup modern kini makin perlu diwaspadai, sebab mobilitas orang makin tinggi. Perilaku yang bisa menimbulkan luka menjadi rentan disusupi VHC. Kalau sudah begitu, kita seperti menanam bom waktu. Perilaku yang patut diwaspadai itu adalah menjalani terapi akupunktur dan tindik pada tubuh dengan jarum yang tidak disterilisasi atau dibersihkan sebagaimana seharusnya. Begitu pula dengan jarum tato yang tidak disucihamakan atau tinta yang telah terkontaminasi.

Bagi yang suka mengisap kokain, waspadalah. Sedotan yang dipakai untuk menghirup nikmatnya kokain berpeluang mencederai hidung. Jika alat ini digunakan secara bergantian (mana asyik sih ngedrug sendirian), penularan VHC pun dimungkinkan terjadi. Teman tinggal teman, tapi apakah ia berani jujur jika menderita hepatitis C?

Perilaku berisiko lainnya yaitu berganti-ganti pasangan hubungan seksual (terlebih dengan pekerja seks komersial), alias penganut seks bebas. “Terutama pada daerah-daerah dengan prevalensi hepatitis C tinggi, risiko penularan dengan modus ini sangat tinggi,” tutur lulusan Fakultas Kedokteran UI tahun 1968 ini. Indonesia, lanjut Suwandhi, termasuk daerah dengan prevalensi cukup tinggi.

Terakhir – semoga ini tidak menimbulkan sikap paranoid – pemakaian barang-barang perawatan pribadi seperti pisau cukur, sikat gigi, gunting kuku, sisir secara bersamaan sebaiknya dihindari. Terlebih bila alat-alat itu tersimpan dalam lingkungan yang kondusif, seperti kamar mandi. “Virus bisa bertahan dalam keadaan basah cukup lama, satu sampai dua minggu,” ujar Suwandhi.
Nah, mengingat sebagian peralatan tadi juga jamak dipakai pada salon dan tukang cukur pinggir jalan, tindakan pencegahan tentu menjadi kunci utama agar tidak tertular hepatitis C. Bukan berarti orang lalu dilarang bercukur di salon atau barber shop! Sekadar mengingatkan, tempat-tempat itu merupakan terminal yang patut diwaspadai, karena bisa jadi
ada penumpang gelap bernama VHC yang ikut nimbrung di sana.

Kuncinya pendidikan
Lantaran gejalanya susah dideteksi, penderita hepatitis C umumnya baru sadar ketika melakukan pemeriksaan berkala. Daripada nanti terkaget-kaget sehabis medical check up paket lengkap, alangkah baiknya Anda yang berisiko segera memeriksakan diri. Jika sudah tahu terjangkiti, langkah selanjutnya mencegah agar VHC tidak menular ke orang lain.

Bila ingin tahu kita masuk ke kelompok berisiko atau tidak, cobalah jawab sejumlah pertanyaan berikut. Jika Anda menjawab “ya” pada salah satu pertanyaan, segeralah berkonsultasi dengan dokter yang berkompeten.

  • Apakah Anda pernah menerima transfusi darah atau produk darah dan atau transplantasi organ tubuh?
  • Apakah Anda pernah melakukan cuci darah (hemodialisis)?
  • Apakah Anda memiliki anggota keluarga yang menderita hepatitis C?
  • Apakah Anda memiliki tato atau ditindik dengan jarum yang tidak steril?
  • Apakah Anda pernah melakukan aktivitas seksual risiko tinggi tanpa (pasangan Anda) menggunakan kondom?
  • Apakah Anda salah satu dari pekerja profesional kesehatan dan pernah kontak dengan darah di tempat kerja?
  • Apakah Anda menggunakan pemotong kuku, gunting, sisir, sikat gigi, atau alat cukur (yang mungkin ternoda darah di dalamnya) bersama dengan orang yang terinfeksi hepatitis C?

Jika Anda termasuk yang belum berisiko, langkah selanjutnya tentu mencegah jangan sampai terperosok ke lubang risiko. Kunci pencegahan itu ialah pendidikan hidup sehat, dan menurut Suwandhi, tergantung siapa yang disasar. Informasi tentang pencegahan penularan hepatitis C bagi kalangan pekerja kesehatan tentu berbeda dengan para pelajar atau mahasiswa maupun untuk masyarakat umum.

Sementara kepada para penderita hepatitis C sebaiknya diberikan buku panduan atau selebaran mengenai perilaku apa yang dapat memperburuk penyakitnya dan bagaimana penyakitnya dapat menular pada orang di sekelilingnya! Misalnya, membuang dengan hati-hati barang-barang yang terkena darah, seperti tisu, kapas pembersih, tampon, dan serbet kesehatan. Tutuplah luka yang menganga atau terbuka. Saat memotong rambut disarankan untuk tidak minta dikerik. Kemudian jika melakukan hubungan seksual, pakailah kondom. Ingat, “Vaksin hepatitis C belum ada.”

Pentingnya pemeriksaan dini sangat erat kaitannya dengan perjalanan VHC. Semakin dini diketahui penyakit ini, makin mudah untuk diobati. Bila penyakit hepatitis C ketahuan saat stadium yang lebih lanjut, kecil kemungkinan untuk sembuh.

Maka, kini sudah waktunya Willy melakukan pemeriksaan darah.

boks
Bukan A, Bukan B, Ya C!

Hepatitis C sudah ada dari dulu. Cuma belum diketahui genome virus penyebabnya. Para peneliti pun memasukkannya sebagai hepatitis non-A, non-B, karena pada waktu itu orang baru mengenal adanya virus hepatitis A dan B saja. Baru pada 1989 Choo dan kawan-kawan berhasil menemukan genome dari hepatitis non-A, non-B, dan mereka lalu menamakan sebagai hepatitis.

(Sumber: Intisari September 2006)

September 1, 2006 at 1:10 am 1 komentar


Laman

Blog Stats

  • 38,046 hits

Iki potoku

Results - Ciremai Trail Run 2016-08-24 16-39-40

Garmen FR 10

Garmen FR 10

Lebih Banyak Foto