Mereka Selamat dari Gempa

September 1, 2006 at 3:13 am Tinggalkan komentar

Sabtu 27 Mei 2006, saat terang tanah, wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah dilanda gempa berkekuatan besar. Banyak korban berjatuhan, tapi lebih banyak lagi yang selamat. Sebagian dari mereka luput dari maut dan cedera dengan cara unik.

Bagi mereka yang berusia 30-an tahun seperti Sugeng, gempa di desanya pada Sabtu 27 Mei 2006 itu merupakan gempa terbesar yang pernah dialaminya. Kawasan Pleret, tempat Sugeng tinggal, itu termasuk daerah yang kerusakannya paling parah.
Dalam catatan sejarah, gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter itu bukan termasuk gempa terbesar pertama. Tercatat pada 1867 wilayah Yogyakarta sudah digoyang lindu dengan akibat 372 rumah roboh dan lima orang meninggal.

Hampir seabad kemudian, tepatnya 1943, gempa kembali melanda Yogyakarta dengan hasil yang lebih dahsyat: 2.800 rumah hancur, 213 orang meninggal, dan 2.096 orang luka-luka. Sugeng sebenarnya pernah merasakan gempa cukup besar tapi tidak ada kerusakan berarti di daerahnya. Gempa yang terjadi tahun 1981 itu tercatat membuat dinding Hotel Ambarukmo di Yogyakarta retak-retak.

Kini, seiring bertambahnya penduduk, gempa menelan banyak korban. Dari situs sonorajogjamediacenter.org tercatat 6.234 orang meninggal, lebih dari 50.000 luka-luka, serta lebih dari 70.000 bangunan rusak atau ambruk. Berbagai simpati mengalir bagi para korban. Di balik peristiwa itu tersimpan kecemasan dan keberuntungan.

Keluar lebih awal

Kecemasan dirasakan oleh mereka yang memiliki ikatan batin dengan wilayah yang terkena gempa. Apalagi beberapa saat setelah gempa, komunikasi bisa dikatakan putus sama sekali. Hal ini dialami Eni yang orangtuanya tinggal di Dusun Tilaman yang masuk wilayah Kecamatan Imogiri. Berhubung tidak dapat memperoleh kepastian informasi tentang keadaan orangtuanya, maka ia memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta pada Sabtu siang itu.

Butuh perjuangan berat, sebab sesampai di Yogyakarta pada Minggu dini hari, transportasi menuju kampungnya lumpuh. Padahal jarak Yogyakarta – Imogiri lumayan juga, sekitar 17 km. Rasa cemas mengalahkan segalanya sehingga Eni, yang kebetulan pulang bersama saudaranya yang orangtuanya tinggal tidak jauh dari kampung orangtua Eni, memutuskan untuk berjalan kaki. Beruntung, baru separuh perjalanan, ada kendaraan menuju ke Imogiri yang bersedia ditumpanginya.

Eni baru merasa lega setelah tahu orangtuanya selamat, meski sebagian rumahnya hancur dan dindingnya retak-retak. Kondisi itu masih lebih bagus dibandingkan dengan bangunan milik para tetangga kir-kanannya yang rata dengan tanah. Bahkan, Kabupaten Puroloyo, salah satu situs milik Keraton Yogyakarta pun sami mawon, rata dengan tanah. Tembok kukuhnya memang cuma batu bata yang ditata tanpa menggunakan perekat semen.

Di kampungnya korban meninggal tercatat tiga orang, kebanyakan tertimpa reruntuhan tembok rumah. Namun, ada juga yang selamat tanpa lecet sedikit pun meski rumahnya ambruk seambruknya. Bu Suyitno (70), misalnya. Menurut Joko, anaknya yang bekerja di Jakarta dan buru-buru pulang ke Yogyakarta, begitu kabar gempa tersebar, di rumah yang tiga perempatnya rubuh itu ibunya tinggal bersama salah seorang anak perempuannya, Nani.

Seperti malam-malam sebelumnya, Bu Suyitno yang menderita stroke tidur di ruang tengah. Ketika gempa mengguncang, secara reflek Nani lari keluar rumah tanpa sempat menyelamatkan ibunya. Ketika gempa selesai, Nani yang ingin mengetahui kondisi ibunya teralang pintu rumah yang miring sehingga susah dibuka. Bersama saudaranya akhirnya Nani bisa masuk ke rumah, dan untunglah ibunya tidak mengalami cedera. Padahal kondisi di dalam rumah sudah berantakan. Lemari-lemari roboh menghamburkan seluruh isinya ke mana-mana. Bisa jadi ibunya selamat karena terjatuh ke lantai dan tempat tidurnya menjadi tempat perlindungan yang kukuh.

Keberuntungan serupa dialami Ny. Pawiro Dasi (85). Seperti pagi-pagi sebelumnya, pemilik toko terlengkap di Ganjuran, Bantul, ini duduk di samping tokonya. Namun, pagi itu ia keluar lebih awal dari biasanya. Begitu gempa terjadi, perempuan yang berkursi roda karena patah tulang punggungnya ini langsung tertimpa jendela yang jebol dan diikuti material-material lain. Suryadi, anak lelakinya yang menderita sulit bicara, begitu tahu ibunya tertimbun reruntuhan rumah, lantas berteriak-teriak memanggil ibunya sambil menangis. Karena sambil membopong anak balitanya, tentu dia tidak bisa sendirian menyelamatkan ibunya.

Suharwanto, anak bungsunya yang tinggal tak jauh dari situ, sedang membantu tetangga sebelahnya yang juga tetimpa keruntuhan rumah. Akan tetapi begitu ingat akan nasib ibunya, anggota DPRD Bantul ini langsung bergegas pergi ke rumah ibunya. Bersama-sama kakak beradik ini membongkar reruntuhan rumah yang menimpa ibu mereka. Syukurlah, sang ibu tidak mengalami luka serius, hanya pelipisnya terkena pecahan kaca, meski sempat dibawa ke RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Untungnya lagi, Bu Pawiro keluar dari kamar tidur lebih awal. Dinding kamar tidurnya roboh persis menimpa tempat tidurnya.

Lain lagi dengan kisah Dawami (35), warga Ngringinan, Palbapang, Bantul. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat barang kerajinan ini sedang tiduran di kamar tengah bersama anak laki-lakinya. Dawami, yang belum sembuh benar dari penyakit usus buntu terkejut sekali ketika gempa terjadi. Tiba-tiba saja ruang belakang sudah mulai roboh, bersama anaknya dia bangkit dan hendak keluar ke arah depan. Begitu sampai di pintu, ruang depan pelan-pelan juga roboh. Maka, bersama anak laki-lakinya dia bertahan di ruang tengah. Kedua tangannya ke atas seakan-akan ingin melindungi diri. Ia hanya bisa pasrah. Ajaib, kamar tengah yang dia tempati justru tidak runtuh.

Sembunyi di almari

Keberuntungan juga menghampiri Ny. Zubaisah (83), warga Gedogan, Sumbermulya, Bambanglipuro. Saat itu dia sedang duduk di gandok yang juga dijadikan warung kecil-kecilan. Anaknya, Sunarti (38), baru saja mengeluarkan sepeda motor bebeknya di halaman. Dia hendak mandi, lalu mengambik handuk. Meski sudah siap dengan handuk, dia mengurungkan niatnya untuk mandi lantaran matanya melihat halamannya tampak kotor pagi itu. Sunarti pun keluar, lalu menyapu halaman itu.

Baru beberapa menit menyapu, tiba-tiba tanah tempatnya berpijak bergoyang. Sunarti segera berlari ke gandok menghampiri emak-nya dan menyeretnya keluar sebelum rumah mereka roboh. Coba kalau Sunarti langsung mandi di belakang, entah apa yang terjadi dengan ibunya yang sudah sulit berjalan karena sepuh itu.

Hal yang sama dialami Ignatius Warsidi (78) yang tinggal di Tegalkrapyak, Kecamatan Dongkelan, Bantul. Gara-gara tikus ia selamat dari goyangan lindu. Malam sebelumnya, ia memasang perangkap tikus. Pagi hari ketika sedang memasak air, istrinya melihat ada tikus terjebak di perangkap yang dipasang Warsidi. Berhubung takut memegang tikus, istrinya berniat membangunkannya untuk disuruh membuang. Baru saja Warsidi bangun, tiba-tiba tanah bergoyang. Dengan sigap suami-istri itu langsung menghambur keluar. Mereka menyaksikan rumah yang ditinggalinya luruh mencium tanah.

Anehnya, gempa sebesar itu tidak dirasakan oleh Wignyo (60-an) – warga Pundung Kecamatan Imogiri – yang pagi itu sedang menyapu halaman. Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara gemuruh robohnya rumah. Alhasil ia tidak bisa menyelamatkan istrinya yang tertimpa tembok sehingga harus dirawat di rumah sakit karena kakinya cedera.

Gempa yang berlangsung pagi itu memang tak sampai semenit lamanya. Beruntung bagi Dedy (38), warga Dodotan, Sumbermulya, Bambanglipuro, Bantul. Reflek berpikir sopir Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini masih baik sehingga ia bisa selamat dari gempa. Waktu itu bersama anak perempuannya ia masih berada di dalam rumah. Begitu melihat rumah mulai roboh, Dedy segera berlari ke arah lemari sambil menggandeng anaknya. Berdua mereka masuk ke dalam lemari pakaian. Meski rumah Dedy hancur mencium tanah, ia dan anak perempuannya terlindung di dalam lemari.

Cerita korban yang selamat dari gempa tentu masih banyak lagi. Agar peristiwa yang memakan korban jiwa dan luka-luka itu tak terulang lagi, maka Sugeng dan korban lain yang selamat perlu mengisahkan peristiwa itu dan mengingatkan kepada anak keturunannya agar membangun rumah yang tahan gempa. Soalnya, dari reruntuhan bangunan itulah korban berjatuhan. Gempa-gempa besar di lokasi yang sama bisa jadi bakal berulang, meski dalam rentang waktu yang lama, bisa di atas 50 tahunan. Bahkan bisa 100 – 300 tahunan.

(Sumber: Intisari Agustus 2006)

Entry filed under: Human interest. Tags: .

Jantung Bocor Tak Harus Biru Sabuk Keselamatan Rumah Antigempa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Laman

Blog Stats

  • 38,046 hits

Iki potoku

Results - Ciremai Trail Run 2016-08-24 16-39-40

Garmen FR 10

Garmen FR 10

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: