Memantau Rekahan Gunung Api

September 14, 2007 at 7:56 am 4 komentar

Alam tidak bisa ditebak ulahnya. Teknologi yang ada hanyalah mampu memberi tanda-tanda. Salah satunya teknologi pemantauan deformasi gunung api menggunakan global positioning system (GPS) yang bisa mengungkap aktivitas tubuh sebuah gunung api.

Gunung Merapi (2.968 m di atas permukaan laut) memang memiliki banyak kekhususan. Gunung muda ini termasuk gunung berapi yang sangat aktif. Sejak 1548, gunung ini sudah meletus 68 kali. Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2 – 3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10 – 15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan itu menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.400 orang. Pada November 1994 batuknya menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Aktivitas terakhirnya, Mei 2006 membuat penduduk sekitar terpaksa diungsikan.

Berhubung di lereng Merapi sampai 1.700-an m dpl merupakan permukiman penduduk, pemantauan Merapi menjadi penting demi meminimalkan bencana jika meletus. Ada beberapa metode yang dipakai untuk memantau gunung api seperti metode visual, seismik, deformasi, kimia gas, pengukuran temperatur, gaya berat, geomagnetik, dan penginderaan jauh. Semakin banyak metode yang digunakan, semakin akurat pengamatan yang dilakukan sehingga perkiraan terjadinya letusan bisa diketahui lebih cepat.
“Metode yang paling banyak dilakukan saat ini adalah metode seismik dan deformasi,” ujar Dr. Hasanuddin Z. Abidin, dari Teknik Geodesi ITB. Metode seismik dipakai untuk mengevaluasi aktivitas di dalam gunung api, sedangkan metode deformasi digunakan untuk mengetahui pola dan kecepatan deformasi permukaan gunung api secara horisontal maupun vertikal. “Dari data deformasi dapat terungkap karakteristik aktivitas magmatik, termasuk lokasi dan pusat tekanan, dan juga volume muntahan magmanya jika terjadi letusan,” imbuhnya.

Bisa mencapai puluhan meter
Deformasi tubuh sebuah gunung api diyakini sebagai salah satu tanda-tanda terpercaya dari kebangkitan aktivitasnya. Selama ini sudah banyak diketahui, letusan-letusan gunung api yang eksplosif sering diawali oleh deformasi berupa kenaikan permukaan tanah yang relatif cukup besar. Bahkan untuk gunung api yang telah sekian lama “tidur”, fenomena deformasi merupakan salah satu indikator yang bisa dipercaya dari kebangkitannya kembali.

Prinsipnya, deformasi berupa penaikan (inflasi) ataupun penurunan (deflasi) permukaan tanah. Inflasi umumnya terjadi karena proses gerakan magma ke permukaan yang menekan permukaan tanah di atasnya. “Deformasi maksimal biasanya teramati tidak lama sebelum letusan gunung api berlangsung,” kata Hasanuddin. Sedangkan deflasi terjadi selama atau sesudah masa letusan. Pada saat itu, tekanan magma dalam tubuh gunung api sudah melemah.

Gejala deformasi ini akan menyebabkan pergeseran posisi – baik vertikal maupun horisontal – suatu titik di tubuh gunung api. Nilai pergeseran itu bisa mencapai puluhan meter pada gunung api silisik yang membentuk kubah lava. Berbeda pada gunung api yang kantong magmanya masih jauh di bawah permukaan atau gerakan naiknya magma relatif lambat, deformasi yang teramati relatif kecil. “Kadang-kadang nilai strain-nya lebih kecil dari 0,1 ppm per tahun,” ujar Hasanuddin.

Pengamatan perubahan permukaan tanah ini dapat dilakukan dengan berbagai sistem, salah satunya memanfaatkan teknologi global positioning system (GPS). Kelebihannya tentu saja dalam hal ketelitiannya (bisa sampai milimeter). Pemantauan deformasi sendiri dilakukan secara episodik (dalam selang waktu tertentu) atau kontinyu (terus-menerus). Untuk gunung api yang aktif seperti Merapi, idealnya dilakukan secara kontinyu, sementara untuk gunung api yang tidak terlalu berbahaya bisa saja cukup dengan pemantauan berkala.
Sayangnya, belum setiap pos gunung api punya GPS, bahkan hampir tidak ada. Menurut Hasanuddin, hanya Gunung Merapi di Jawa Tengah yang memiliki GPS dan dipantau secara kontinyu. “Itu pun yang memasang Jerman dan Prancis,” tambahnya. Tak disangkal, harga mahal adalah kendala. Alat penerima GPS yang digunakan ini harganya ratusan juta rupiah. Sedangkan di lab Gedodesi ITB ada 14 receiver yang umumnya sumbangan atau hibah dari Jepang.

Di beberapa negara maju, pemantauan deformasi gunung api menggunakan GPS sudah dilakukan secara online, seperti metode seismik pada pos pengamatan gunung api di Indonesia. Sungguh bertolak belakang mengingat Indonesia yang dijuluki ring of fire justru hanya menempatkan metode GPS sebagai pendukung saja.

Punya signature
Untuk dapat memperoleh data deformasi gunung api menggunakan metode GPS, sejumlah receiver yang dipasang di punggung dan puncak gunung diaktifkan secara bersamaan. Komponen utama suatu receiver biasanya antena dengan penguat, bagian radio frequency (RF) dengan pengenal dan pemroses sinyal, pemroses mikro untuk pengontrolan receiver, contoh data dan pemroses data, osilator presisi, unit perintah dan tampilan, memori, serta perekam data.

Begitu receiver diaktifkan, maka akan diterima data digital dari sejumlah satelit yang mengudara di orbit. Setiap satelit secara kontinyu memancarkan sinyal gelombang pada dua frekuensi L-band, yang dinamakan L1 dan L2. Ada dua kode pseudo-random noise (PRN) yang dikirimkan satelit GPS untuk dipakai sebagai penginformasi jarak, yaitu kode P (Precise atau Private) dan kode-C/A (Coarse Acquisition atau Clear Access). L1 membawa kode P dan C/A beserta pesan navigasi, sedangkan L2 membawa kode P dan pesan navigasi.

Data pengamatan dasar GPS adalah waktu tempuh dari kode P dan C/A serta fase gelombang pembawa L1 dan L2. Konsep dasar penentuan posisi dengan GPS sebenarnya pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya sudah diketahui. Posisi yang diberikan GPS adalah posisi tiga dimensi (X, Y, Z).

Dalam GPS titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam ataupun bergerak. Posisi titik dapat ditentukan dengan satu receiver GPS terhadap pusat Bumi atau menggunakan metode absolut (point positioning) ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (monitor station) dengan metode diferensial (relative positioning) yang minimal menggunakan dua receiver GPS.

Penentuan posisi secara diferensial dipakai untuk memperoleh ketelitian posisi yang relatif tinggi. Setelah itu dilakukan pemrosesan data untuk menentukan koordinat dari titik-titik yang mencakup tiga tahap utama penghitungan, yaitu pengolahan data dari setiap baseline dalam jaringan, perataan jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat dari titik-titik dalam jaringan, kemudian transformasi koordinat titik-titik itu dari datum WGS84 ke datum yang diperlukan pengguna.

Data pengamatan sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup kemudian diproses untuk mendapatkan informasi mengenai posisi, kecepatan, dan waktu atau parameter turunannya. Perubahan data-data itu diamati secara terus-menerus selama terpasangnya receiver, yaitu antara 8 – 16 jam. Dari pengolahan data dapat diketahui vektor pergeseran horisontal maupun vertikal sebuah gunung api. Dengan pembandingan vektor tersebut serta metode pemantauan lainnya dapat diketahui perubahan bentuk gunung api dan dapat dianalisis perubahan yang terjadi.

Aplikasi GPS juga dapat digunakan untuk memahami karakteristik sebuah gunung api. Panjang pendeknya pergeseran koordinat titik pengamatan dapat menentukan apakah gunung api tersebut dalam keadaan bahaya. Penentuan keadaan bahaya itu amat tergantung pada pengetahuan mengenai gunung api itu sebelumnya. “Itu yang disebut signature gunung api, yang masing-masing gunung berbeda-beda,” ungkap Hasanuddin. (Sumber: Intisari Agustus 2006)

boks

KORBAN BERKURANG SETELAH DIPANTAU

Dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta, yang sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa tempat sebagian besar gunung api bercokol, maka sistem peringatan dini terhadap aktivitas gunung berapi tentu sangat membantu dalam meminimalkan korban. Data berikut bisa memberi gambaran betapa jumlah korban bisa menurun drastis setelah adanya pemantauan gunung api (Katili dan Siswowidjojo, 1994).

Tabel letusan gunung berapi

Entry filed under: Iptek. Tags: .

Sabuk Keselamatan Rumah Antigempa

4 Komentar Add your own

  • 1. drs. kardi  |  Juli 14, 2009 pukul 12:16 pm

    sangat bagus, daat dijadikan sebagai referensi khususnya yang terkait dengan gunung api

    Balas
  • 2. dani  |  September 28, 2010 pukul 9:20 am

    ya laha bagus tapi kurang merarik kali ya sih mau ya sih yayaya sih laha

    Balas
  • 3. Coignannoum  |  Januari 25, 2011 pukul 12:53 am

    awal yang baik

    Balas
  • 4. yettaking77424  |  April 9, 2016 pukul 6:16 am

    wat!nflock is the best browser invented firefox lies third second isnsafari because of its speednflock can take firefox adds on<br / Click https://zhoutest.wordpress.com/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Laman

Blog Stats

  • 38,046 hits

Iki potoku

Results - Ciremai Trail Run 2016-08-24 16-39-40

Garmen FR 10

Garmen FR 10

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: